KENDARI – Universitas Mandala Waluya melalui portal utamanya di Kendari menggelar acara Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 yang meriah pada tanggal 31 Maret 2026. Kegiatan yang melibatkan lebih dari 500 mahasiswa dari berbagai program studi ini menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam mengembangkan potensi nonfakultatif mahasiswa di bidang olahraga dan pelestarian budaya lokal.
Acara yang diselenggarakan di lapangan olahraga utama dan aula seni Portal Mandala Waluya ini berlangsung selama tiga hari, dimulai pada hari Jumat pagi hingga Minggu sore. Festivitas ini menampilkan berbagai cabang olahraga tradisional dan modern, serta pertunjukan seni budaya yang memadukan nilai-nilai kearifan lokal Sulawesi Tenggara dengan ekspresi seni kontemporer mahasiswa.
Latar Belakang Penyelenggaraan
Keputusan Universitas Mandala Waluya mengadakan festival berskala besar ini merupakan respons positif terhadap meningkatnya minat mahasiswa dalam mengembangkan diri di luar akademik. Menurut data dari Direktorat Kemahasiswaan Universitas Mandala Waluya, dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan 40 persen dalam pendaftaran organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang olahraga dan seni budaya.
“Kami melihat potensi luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa kami untuk tidak hanya menjadi akademisi berkualitas, tetapi juga sosok yang berjiwa seni dan atletis,” ujar Rendra Wijaya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Mandala Waluya, dalam konferensi pers pembukaan festival pada Jumat pagi (31 Maret 2026).
Penyelenggaraan festival ini juga sejalan dengan visi universitas untuk menjadi institusi pendidikan yang holistik dan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga mengembangkan soft skill dan apresiasi terhadap budaya lokal. Dengan mengadakan festival ini, Universitas Mandala Waluya berharap dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa secara menyeluruh.
Rangkaian Acara Olahraga yang Memukau
Bagian olahraga dari festival ini menampilkan kompetisi dalam berbagai cabang. Mulai dari olahraga tradisional seperti pencak silat dan tarik tambang, hingga olahraga modern seperti futsal, bola voli, badminton, dan lompat jauh. Setiap cabang olahraga diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai fakultas di kampus.
Pencak silat menjadi salah satu cabang yang paling meriah dengan kehadiran 60 peserta. Kompetisi ini menampilkan pertarungan sengit antar mahasiswa dengan berbagai tingkat keahlian. Juri kompetisi, Sensei Bambang Hidayat, seorang praktisi pencak silat bersertifikat internasional, memberikan apresiasi tinggi terhadap tingkat kompetensi peserta.
“Saya terkejut melihat tingkat teknik dan kedisiplinan atlet-atlet muda dari Universitas Mandala Waluya. Mereka menunjukkan semangat yang luar biasa dan pemahaman mendalam tentang seni pencak silat,” ungkapnya sambil mengamati pertandingan.
Sementara itu, cabang futsal menghadirkan 16 tim yang terdiri dari mahasiswa dari berbagai fakultas, mulai dari Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, hingga Fakultas Pendidikan. Pertandingan futsal berlangsung seru dengan pertukaran bola yang cepat dan strategi pertahanan yang solid. Tim dari Fakultas Teknik akhirnya keluar sebagai juara dengan performa yang impresif.
Kompetisi tarik tambang tradisional juga menarik perhatian penonton dengan antusiasme yang tinggi. Puluhan peserta dari berbagai fakultas membentuk tim-tim untuk berkompetisi dalam olahraga yang telah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia ini. Energi positif dan kebersamaan terlihat dengan jelas dalam setiap pertandingan tarik tambang.
Pertunjukan Seni Budaya yang Memukau
Tidak kalah meriah dengan acara olahraga, bagian seni budaya festival ini menampilkan berbagai pertunjukan yang mencerminkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara dan kreativitas mahasiswa. Pertunjukan tari tradisional seperti Tari Cakalele dan Tari Balumba menjadi pembuka yang spektakuler pada hari pertama festival.
Mahasiswa dari Universitas Mandala Waluya yang tergabung dalam Klub Seni Tari menampilkan interpretasi modern dari tari-tari tradisional ini. Kostum yang berwarna-warni dan gerakan yang dinamis menciptakan suasana yang memikat bagi ratusan penonton yang memenuhi aula seni kampus.
“Kami ingin menunjukkan bahwa budaya tradisional tetap relevan dan dapat dipadukan dengan ekspresi seni kontemporer. Melalui festival ini, kami berharap dapat menginspirasi generasi muda untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya kita,” jelas Siti Nur Azizah, ketua Klub Seni Tari Universitas Mandala Waluya.
Selain tari, festival juga menghadirkan pertunjukan musik tradisional dan modern. Orkestra gamelan yang dimainkan oleh mahasiswa dari Program Studi Seni Musik memberikan penampilan yang elegan dan menyentuh. Sementara itu, band-band mahasiswa dengan genre musik yang beragam, mulai dari rock hingga indie pop, turut meramaikan festival dengan pertunjukan yang energik.
Sesi pameran seni rupa juga menjadi bagian penting dari festival ini. Ratusan karya seni visual karya mahasiswa, termasuk lukisan, patung, fotografi, dan seni instalasi, dipajang di area galeri indoor kampus. Setiap karya menceritakan perspektif unik mahasiswa tentang kehidupan, budaya, dan isu-isu sosial yang mereka amati.
Taufik Hermawan, seorang dosen dari Fakultas Seni dan Desain, yang juga menjadi salah satu kurasi pameran ini, memberikan pujian atas kualitas karya-karya yang dipajang.
“Apa yang saya lihat di pameran ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita tidak hanya menerima pembelajaran seni secara pasif, tetapi mereka secara aktif mengkritisi, bereksperimen, dan menciptakan karya yang memiliki makna mendalam. Ini adalah bukti bahwa pendidikan seni di Universitas Mandala Waluya berjalan dengan sangat baik,” ungkapnya dengan antusias.
Dukungan Pimpinan Universitas
Rendra Wijaya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, dalam sesi pembukaan resmi, menekankan pentingnya festival ini bagi perkembangan mahasiswa secara holistik.
“Universitas Mandala Waluya percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang penguasaan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga tentang pengembangan karakter, kepemimpinan, dan apresiasi terhadap seni dan budaya. Festival seperti ini adalah wujud nyata dari komitmen kami untuk menciptakan lingkungan akademik yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa secara menyeluruh,” katanya.
Wakil Rektor lebih lanjut menambahkan bahwa pihak universitas akan terus memberikan dukungan dan fasilitas bagi mahasiswa untuk mengembangkan bakat mereka di berbagai bidang. “Kami juga sedang mempersiapkan berbagai program pengembangan diri yang lebih komprehensif untuk tahun akademik mendatang, termasuk workshop, pelatihan, dan kompetisi di tingkat regional dan nasional,” lanjut Wijaya.
Dampak dan Manfaat Festival
Penyelenggaraan festival olahraga dan seni budaya ini membawa berbagai dampak positif bagi mahasiswa dan universitas secara keseluruhan. Pertama, festival ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan bakat dan prestasi mereka di bidang nonfakultatif. Banyak peserta yang merasa terinspirasi dan termotivasi untuk terus mengembangkan diri mereka.
Kedua, festival ini memperkuat ikatan antarfakultas dan antarprogram studi di Universitas Mandala Waluya. Melalui kegiatan bersama ini, mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik memiliki kesempatan untuk berinteraksi, saling mengenal, dan membangun kerja sama yang lebih solid.
Ketiga, festival ini turut berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal Sulawesi Tenggara. Dengan melibatkan mahasiswa dalam berbagai pertunjukan dan aktivitas seni budaya, universitas secara tidak langsung mendidik generasi muda untuk menghargai dan menjaga warisan budaya mereka sendiri.
Keempat, festival ini juga menjadi ajang untuk menggali dan mengembangkan potensi kepemimpinan mahasiswa. Berbagai aspek kepemimpinan, mulai dari kemampuan organisasi, komunikasi, hingga problem-solving, dapat dilihat dalam setiap tahapan penyelenggaraan festival ini.
Respons Positif dari Mahasiswa
Mahasiswa peserta festival memberikan respons yang sangat positif terhadap kegiatan ini. Muhammad Adi Pratama, seorang mahasiswa Fakultas Teknik yang menjadi juara dalam cabang lompat jauh, mengungkapkan kebanggaannya dan harapannya untuk acara serupa di masa depan.
“Festival ini memberikan saya kesempatan untuk tidak hanya berkompetisi, tetapi juga membangun persahabatan dengan mahasiswa lain. Saya berharap universitas akan terus mengadakan acara seperti ini karena ini sangat bermanfaat bagi pengembangan diri kita semua,” ujarnya dengan senyuman bahagia sambil memegang medali emas yang baru saja diraihnya.
Sementara itu, Putri Widiastuti, seorang mahasiswa dari Program Studi Seni Rupa yang karya lukisannya ditampilkan di pameran, merasa senang bisa menunjukkan kreativitasnya kepada publik yang lebih luas.
“Melihat karya saya dipajang di galeri kampus dan mendapat apresiasi dari pengunjung pameran memberikan saya kepuasan dan motivasi untuk terus berkarya. Saya juga belajar banyak dari karya-karya teman-teman saya yang juga ditampilkan di sini,” katanya dengan antusiasme.
Penutup
Penyelenggaraan Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 di Universitas Mandala Waluya menjadi momen penting dalam kalender akademik universitas. Acara ini bukan sekadar ajang kompetisi atau pertunjukan semata, tetapi merupakan manifestasi dari visi universitas untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berjiwa seni, sehat jasmani, dan memiliki apresiasi tinggi terhadap budaya lokal.
Dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas dan partisipasi aktif dari ratusan mahasiswa, festival ini telah berhasil menciptakan suasana akademik yang dinamis, inklusif, dan inspiratif. Ke depannya, diharapkan acara serupa dapat terus diselenggarakan dengan skala yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak stakeholder eksternal, seperti komunitas lokal dan institusi pendidikan lain di Kendari dan sekitarnya.
Semangat yang ditampilkan oleh mahasiswa Universitas Mandala Waluya dalam festival ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia tidak hanya mampu bersaing secara akademik, tetapi juga memiliki potensi luar biasa dalam mengembangkan seni, olahraga, dan budaya yang kaya. Universitas Mandala Waluya layak berbangga telah menjadi wadah yang tepat untuk mengasah potensi-potensi brilian ini.
(Berita ini ditulis berdasarkan liputan langsung pada penyelenggaraan Festival Olahraga dan Seni Budaya Universitas Mandala Waluya di Kendari, 31 Maret 2026)